Bulan Rajab selalu menjadi momen yang dinanti oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia. Bulan ini hadir sebagai pertanda datangnya rangkaian waktu-waktu penuh keutamaan yang mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Tidak sedikit kaum muslimin yang mempersiapkan diri secara khusus ketika memasuki bulan ini.
Rajab juga termasuk salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum / الأشهر الحرم), yaitu bulan-bulan suci yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan-bulan tersebut, berbagai amalan kebaikan sangat dianjurkan, sementara perbuatan maksiat lebih berat konsekuensinya. Hal ini menunjukkan betapa tinggi nilai spiritual yang terkandung dalam bulan Rajab.
Selain itu, kehadiran bulan ini menjadi pengingat bahwa pintu-pintu keberkahan tengah dibukakan dengan luas. Rajab memberi ruang bagi setiap hamba untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, serta memohon ampunan kepada Allah SWT sebagai persiapan menuju Sya’ban dan Ramadhan yang semakin dekat. Semoga kita semua dapat memanfaatkan momen mulia ini dengan sebaik-baiknya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dan dinilai hasan mursal oleh Imam asy-Syaukani dalam Nailul Authar, Rasulullah SAW bersabda:
رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ
Artinya:“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulannya umatku.” (Jâmi’ul Ahadits, no. 12682)
Dengan kedudukan mulia ini, banyak ulama dan sahabat Nabi yang memberikan perhatian khusus terhadap amal ibadah di bulan Rajab. Di antara mereka adalah Sayyidina Ali karramallahu wajhah, yang dikenal memiliki amalan khusus di malam pertama bulan Rajab.
Baca Juga: Penting! Aturan Baru Visa Umroh, Cek Info Selengkapnya!
Sayyidina Ali dan Empat Malam Ibadah Istimewa
Dalam kitab Al-Ghunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani, disebutkan bahwa Sayyidina Ali memiliki empat malam istimewa yang selalu dia perbanyak ibadah di dalamnya. Beliau mengosongkan diri dari urusan dunia dan fokus kepada Allah SWT.
Syekh Abdul Qadir meriwayatkan:
كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُفَرِّغُ نَفْسَهُ لِلْعِبَادَةِ فِيْ أَرْبَعِ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ، وَهِيَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.
Artinya:
“Sayyidina Ali radhiyallaahu ‘anhu memfokuskan dirinya untuk beribadah dalam empat malam dalam satu tahun, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, dan malam Nishfu Sya’ban.”
Di antara amalan yang beliau panjatkan pada malam-malam agung tersebut adalah sebuah doa penuh hikmah yang telah diwariskan hingga kini.
Doa Sayyidina Ali Saat Malam Pertama Bulan Rajab
Berikut doa lengkapnya sesuai riwayat dalam Al-Ghunyah, disertai transliterasi dan artinya.
Lafaz Arab
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ، وَمَوَالِي النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ، وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ؛ فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، الْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ، وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ وَعَلَى أَوْلِيَائِكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَاعْمُمْ بِذٰلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
Transliterasi Latin
Allahumma shalli ‘alā Muhammadin wa ālihi maṣābīḥil-ḥikmah, wa mawālīn-ni‘mah, wa ma‘ādinil-‘iṣmah. Wa‘ṣimnī bihim min kulli sū’, wa lā ta’khudnī ‘alā girrah, wa lā ‘alā ghaflah, wa lā taj‘al ‘awāqiba amrī ḥasrah wa nadāmah. Warḍa ‘annī fa-inna maghfirataka liẓ-ẓālimīn, wa anā minaẓ-ẓālimīn.
Allahummaghfir lī mā lā yaḍurruka, wa a‘ṭinī mā lā yanfa‘uka, fa-innaka al-wāsi‘atu raḥmatuhu, al-badī‘atu ḥikmatuhu. Fa-a‘ṭinī as-sa‘ata wad-da‘ata, wal-amna waṣ-ṣiḥḥata, wasy-syukra wal-mu‘āfāta wat-taqwā. Wa afrighiṣ-ṣabra waṣ-ṣidqa ‘alayya wa ‘alā awliyā’ika. Wa a‘ṭinī al-yusr, wa lā taj‘al ma‘ahu al-‘usr. Wa‘umm bīżālika ahlī wa waladī wa ikhwanī fīka wa man waladanī, minal-muslimīna wal-muslimāt wal-mu’minīna wal-mu’mināt.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Ya Allah, limpahkanlah rahmat ta’dzim kepada Muhammad dan keluarganya yang menjadi pelita-pelita hikmah, pemilik kenikmatan, dan sumber perlindungan. Jagalah aku—dengan keberkahan mereka—dari segala keburukan. Jangan Engkau mengambilku dalam keadaan tertipu, dan jangan pula dalam keadaan lupa. Jangan jadikan akhir urusanku sebagai penyesalan dan kesedihan. Ridhailah aku, karena sesungguhnya ampunan-Mu diperuntukkan bagi orang-orang zalim, dan aku adalah bagian dari orang-orang zalim itu.
Ya Allah, ampunilah aku atas sesuatu yang tidak membahayakan-Mu, dan berilah aku sesuatu yang tidak memberi manfaat bagi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Luas rahmat-Nya, Maha Indah hikmah-Nya. Berikanlah aku kelapangan dan ketenteraman, keamanan dan kesehatan, rasa syukur, keselamatan, dan ketakwaan. Limpahkan kesabaran dan kejujuran kepadaku dan kepada para kekasih-Mu. Berikan aku kemudahan tanpa disertai kesulitan. Semoga Engkau juga memberikan semua itu kepada keluargaku, anak-anakku, saudara-saudaraku, dan orang tuaku, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat.
Makna Mendalam dari Doa Sayyidina Ali
Doa tersebut sarat dengan permintaan mendasar seorang hamba kepada Tuhannya. Ada beberapa pelajaran besar yang dapat dipetik:
1. Memohon Petunjuk dan Perlindungan
Sayyidina Ali memohon penjagaan dari tipu daya dan kelalaian—dua hal yang paling sering membuat manusia terjerumus dalam dosa.
2. Kesadaran sebagai makhluk yang lemah
Ungkapan “aku termasuk orang zalim” menunjukkan kerendahan hati seorang sahabat besar, sekaligus teladan bagi umat agar tidak sombong dalam beribadah.
3. Memohon nikmat dunia dan akhirat
Doa ini tidak hanya meminta ampunan, tetapi juga kelapangan, keamanan, kesehatan, hingga ketakwaan—kebutuhan lengkap seorang hamba.
4. Mendoakan seluruh kaum muslimin
Doa ini memperlihatkan keluasan hati Sayyidina Ali yang tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga keluarga, sahabat, dan umat.
Mengapa Malam Pertama Rajab Begitu Istimewa?
Beberapa ulama menyebut malam pertama Rajab sebagai pembuka gerbang rahmat. Di malam tersebut seorang hamba dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan taqarrub kepada Allah SWT. Tradisi ulama terdahulu, seperti yang dicontohkan Sayyidina Ali, menunjukkan besarnya peluang ibadah pada malam ini.
Melakukan doa ini bukan kewajiban syariat, namun menjadi bagian dari amalan sunnah yang penuh keberkahan. Banyak ulama memandangnya sebagai bentuk menjaga tradisi baik (al-‘amal al-mashrū‘) yang turun-temurun dilakukan oleh orang saleh.
Penutup
Doa Sayyidina Ali pada malam pertama bulan Rajab adalah warisan spiritual yang sangat kaya. Selain mengajarkan kerendahan hati, doa ini juga penuh permohonan mendalam tentang keselamatan dunia dan akhirat. Rajab adalah bulan Allah, sebuah momentum untuk memperbanyak ibadah, doa, dan introspeksi.
Semoga kita semua diberi taufik untuk menghidupkan malam pertama Rajab serta memanfaatkan bulan penuh kemuliaan ini sebaik-baiknya.
Sebagai agen biro perjalanan umroh Jogja, Rawda Travel menawarkan berbagai pilihan paket untuk Anda, seperti umroh plus Turki Jogja dan umroh plus Dubai Jogja. Rawda Umroh telah memiliki izin resmi dan melayani berbagai jamaah dari seluruh Indonesia. Testimoni positif yang diterima oleh Rawda adalah bukti dari kepercayaan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga : Inilah Biaya Haji 2026 Diskon Rp2 Juta, Simak Info Lengkapnya!









