Tahallul merupakan salah satu momen paling penting dalam rangkaian ibadah umrah. Meski tampak sederhana karena hanya berupa tindakan memotong atau mencukur rambut, tahallul memiliki makna yang sangat mendalam baik secara syariat, simbolik, maupun spiritual.
Bagi banyak jamaah, tahallul adalah titik akhir yang ditunggu-tunggu setelah menjalani perjalanan panjang mulai dari miqat, thawaf, hingga sa’i.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai apa itu tahallul, dasar hukumnya, cara pelaksanaannya, keutamaannya, serta makna filosofis yang terkandung di baliknya.
Baca Juga: Ini Doa Sayyidina Ali Saat Malam Pertama Bulan Rajab
Puncak Ibadah Umrah Tahallul Setelah Sa’i
Setelah jamaah menunaikan sa’i, yaitu berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, tibalah mereka pada tahapan terakhir dalam ibadah umrah, yaitu tahallul.
Ini adalah momen ketika jamaah memotong rambut sebagai tanda bahwa rangkaian ibadah telah selesai. Dengan selesainya tahallul, jamaah pun keluar dari keadaan ihram dan seluruh larangan ihram tidak lagi berlaku.
Selama menjalani ihram, jamaah tidak diperbolehkan melakukan beberapa hal seperti memakai wangi-wangian, memotong kuku, berburu, menutup kepala (untuk laki-laki), hingga berhubungan suami istri. Pembatasan ini merupakan bentuk kesucian dan fokus ibadah. Namun semua itu berakhir ketika tahallul dilakukan.
Karena berada di ujung rangkaian ibadah, tahallul sering disebut sebagai momen puncak dan penutup seluruh kegiatan umrah.
Makna Tahallul Secara Bahasa dan Menurut Fikih
Secara bahasa, tahallul berarti menghalalkan atau penghalalan, yaitu proses berubah dari kondisi haram menjadi halal. Dari kata ini pula muncul makna “pelepasan” atau “pembebasan”, karena jamaah dibebaskan dari segala larangan saat ihram setelah melakukan tahallul.
Dalam istilah fikih, tahallul berarti keluar dari keadaan ihram karena telah menyelesaikan amalan-amalan haji atau umrah, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tanda selesainya ihram tersebut adalah memotong atau mencukur rambut minimal tiga helai.
Menariknya, penjelasan fikih modern maupun klasik sepakat bahwa tahallul adalah bentuk penghalalan kembali, sehingga status hukum ibadah baru berakhir sempurna setelah ritual ini dilakukan.
Dasar Hukum Tahallul dalam Al-Qur’an
Kewajiban tahallul bukan sekadar tradisi, melainkan memiliki dasar hukum yang tegas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fath ayat 27:
“Sesungguhnya kamu tetap memasuki Masjidil Haram (pada masa ditentukan) dalam keadaan aman (menyempurnakan ibadah kamu) dengan mencukur kepala kamu dan kalau (tidak pun) menggunting sedikit rambutnya…”
Ayat ini menjelaskan bahwa tahallul merupakan bagian dari penyempurnaan ibadah haji dan umrah. Mencukur atau memotong rambut bukan hanya tindakan fisik, melainkan bagian integral dari syariat. Tanpa tahallul, ibadah umrah belum dianggap selesai.
Selain itu, ayat ini juga memberikan gambaran bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat masuk ke Makkah dengan perasaan aman, tenang, dan tidak lagi dihantui ketakutan dari kaum musyrik. Dalam konteks ini, tahallul menjadi simbol kemenangan dan pembebasan.
Cara Tahallul: Ketentuan untuk Laki-Laki dan Perempuan
Pelaksanaan tahallul untuk laki-laki dan perempuan memiliki ketetapan yang berbeda sesuai tuntunan ulama dan syariat Islam.
1. Tahallul bagi Laki-Laki
Laki-laki dianjurkan untuk melakukan halq, yaitu mencukur habis seluruh rambut kepala. Hal ini didasarkan pada kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin:
“Menggundul seluruh rambut bagi laki-laki adalah lebih utama menurut kesepakatan ulama.”
Keutamaan mencukur habis ini besar, bahkan dalam beberapa riwayat hadis, Rasulullah SAW sampai mendoakan tiga kali bagi orang yang menggundul rambutnya, kemudian baru sekali bagi yang memendekkan rambutnya.
Namun demikian, memotong sedikit rambut (minimal tiga helai) tetap sah sebagai tahallul jika jamaah tidak bisa mencukur habis.
2. Tahallul bagi Perempuan
Perempuan memiliki ketentuan berbeda. Mereka tidak diperbolehkan menggundul rambut, karena hal itu dianggap melanggar nilai kesopanan dan keindahan yang dijaga dalam syariat.
Menurut penjelasan ulama seperti Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni:
“Wanita cukup memotong rambut sepanjang ruas jemari. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini di kalangan ulama.”
Imam Ahmad bahkan menjelaskan teknisnya dengan lebih rinci: wanita cukup mengumpulkan seluruh rambut, lalu memotong ujungnya sepanjang satu ruas jari.
Perbedaan ketentuan ini menunjukkan bahwa syariat sangat mempertimbangkan kehormatan dan kenyamanan perempuan.
Makna Spiritual dan Filosofis di Balik Tahallul
Tahallul bukan sekadar memotong rambut. Ada makna simbolik yang sangat dalam, terutama melihat konteks turunnya ayat Al-Fath 27 yang menggambarkan bagaimana umat Islam memasuki Makkah dengan penuh kedamaian.
Beberapa makna spiritual tahallul antara lain:
1. Simbol Pembebasan dari Ketakutan
Seperti para sahabat yang akhirnya memasuki Makkah dengan aman, tahallul menggambarkan berakhirnya rasa takut, cemas, dan tekanan yang mengikat seseorang.
2. Simbol Penyucian Diri
Memotong rambut melambangkan pembersihan ego dan meninggalkan kesalahan atau dosa masa lalu.
3. Simbol Awal yang Baru
Rambut yang dipotong, meski sedikit, menjadi tanda pembaruan diri. Ibadah umrah dianggap sebagai momen kelahiran kembali secara spiritual.
4. Simbol Kerendahan Hati
Kh especially bagi laki-laki yang mencukur habis rambutnya, tindakan ini adalah wujud kerendahan hati di hadapan Allah SWT.
Adab Melakukan Tahallul: Menghormati Senior dan Orang Berilmu
Dalam praktik di lapangan, terutama ketika jamaah bepergian dalam rombongan, ada adab khusus terkait proses tahallul. Biasanya jamaah menentukan siapa yang akan memotong rambut pertama kali.
Menurut pengalaman sebagian jamaah, termasuk yang disampaikan oleh H. Nurhadi, tahallul memiliki dimensi adab sosial:
“Tahallul bukan hanya memotong rambut. Yang juga penting adalah bagaimana lebih menghargai senioritas dan pengalaman.”
Umumnya, rombongan akan memilih seseorang yang:
• Lebih tua dibanding jamaah lain
• Lebih berpengalaman dalam ibadah umrah
• Memiliki pemahaman agama lebih baik
• Dihormati karena kebijaksanaan dan akhlaknya
Dengan demikian, urutan tahallul bukan hanya soal teknis, tetapi menjadi ajang penghormatan dan menjaga harmoni antarjamaah.
Selain itu, memilih siapa yang mencukur pertama kali juga membantu memastikan keteraturan dalam rombongan, sehingga prosesi berjalan lebih tertib.
Pengalaman Jamaah: Lega Setelah Menuntaskan Tahallul
Mayoritas jamaah merasakan kelegaan luar biasa ketika sampai pada tahap tahallul. Bukan hanya karena ibadah telah sempurna, tetapi karena proses yang dilalui pun tidak mudah. Apalagi jika ibadah umrah dilakukan di bulan Ramadhan.
Beberapa pengalaman jamaah saat melakukan umrah di siang hari Ramadhan menggambarkan tantangan yang cukup berat:
1. Menahan haus dan lapar
Sa’i yang dilakukan bolak-balik antara dua bukit tentu menguras tenaga, apalagi saat berpuasa.
2. Menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan umrah
Selama berihram, jamaah harus ekstra hati-hati, karena kesalahan kecil bisa berpengaruh pada kesempurnaan ibadah.
3. Menjaga fokus dan keikhlasan
Meski lelah, jamaah tetap berusaha menjaga kekhusyukan dan niat.
Meski demikian, adanya penutup atau pelindung di jalur sa’i membuat jamaah tidak kepanasan. Air Zamzam juga tersedia meski tidak semuanya bisa diakses langsung.
Namun semua tantangan itu terasa layak ketika akhirnya jamaah bisa melakukan tahallul. Perasaan lega, haru, dan syukur bercampur menjadi satu. Bahkan banyak jamaah yang meneteskan air mata sebagai tanda kebahagiaan.
Kesimpulan
Tahallul adalah bagian dari syariat yang menandai selesainya ibadah umrah. Dengan memotong rambut minimal tiga helai, jamaah keluar dari keadaan ihram dan kembali kepada kondisi halal. Laki-laki disunahkan menggundul rambut, sementara perempuan cukup memotong ujung rambut sepanjang ruas jari.
Namun lebih dari itu, tahallul juga memiliki makna spiritual seperti pembebasan diri, pembersihan jiwa, serta simbol kemenangan dan ketenangan. Prosesi ini juga mengajarkan pentingnya adab, terutama dalam menghormati orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman.
Bagi banyak jamaah, tahallul adalah puncak perjalanan yang memberikan kelegaan luar biasa setelah melakukan thawaf dan sa’i, terlebih jika ibadah dilaksanakan di bulan Ramadhan.
Dengan memahami makna dan tata caranya secara lebih dalam, jamaah dapat menjalani ibadah umrah dengan lebih khusyuk dan penuh kesadaran spiritual.
Sebagai agen biro perjalanan umroh Jogja, Rawda Travel menawarkan berbagai pilihan paket untuk Anda, seperti umroh plus Turki Jogja dan umroh plus Dubai Jogja. Rawda Umroh telah memiliki izin resmi dan melayani berbagai jamaah dari seluruh Indonesia. Testimoni positif yang diterima oleh Rawda adalah bukti dari kepercayaan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga: Penting! Aturan Baru Visa Umroh, Cek Info Selengkapnya!









