Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tradisi keagamaan yang hidup dan berkembang di tengah umat Islam, khususnya di Indonesia.
Momentum ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan hari kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai sarana spiritual untuk memperkuat rasa cinta, penghormatan, dan keteladanan kepada manusia paling mulia yang pernah diutus Allah SWT ke muka bumi.
Oleh karena itu, memahami adab dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi hal yang sangat penting agar peringatan tersebut tidak sekadar menjadi acara seremonial tanpa ruh.
Maulid Nabi sejatinya mengajak umat Islam untuk kembali merenungi keagungan akhlak, perjuangan, serta kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Pembacaan shalawat, kisah perjalanan hidup Nabi, hingga lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang biasa mengiringi peringatan Maulid harus dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan.
Para ulama menegaskan bahwa memuliakan Nabi bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap, etika, dan adab ketika nama beliau disebut atau sejarahnya dibacakan.
Bulan Rabiul Awal, yang diyakini sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, menjadi momentum sakral bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Di bulan inilah, rasa bahagia dan syukur atas diutusnya Rasulullah diekspresikan dalam berbagai bentuk ibadah dan majelis keilmuan. Namun, kebahagiaan tersebut harus tetap dibingkai dengan adab yang luhur agar selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi sendiri.
Baca Juga: 10 Amalan Setara Haji dan Umroh yang Patut Dikerjakan
Makna Spiritual Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya merupakan wujud syukur atas karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada umat manusia, yakni diutusnya Rasulullah sebagai pembawa risalah Islam. Melalui beliau, manusia diperkenalkan pada ajaran tauhid, akhlak mulia, serta jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Allah SWT menegaskan bahwa kegembiraan atas karunia dan rahmat-Nya merupakan sesuatu yang dianjurkan, sebagaimana firman-Nya:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”
(QS. Yunus [10]: 58)
Ayat ini menjadi landasan bahwa bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah bentuk syukur yang dibenarkan secara syariat. Namun, kegembiraan tersebut tidak boleh melalaikan adab dan penghormatan kepada Rasulullah.
Adab dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Meski Maulid Nabi identik dengan suasana bahagia, terdapat adab-adab penting yang harus dijaga oleh setiap muslim. Adab ini mencerminkan kecintaan, penghormatan, dan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW, baik ketika nama beliau disebut maupun saat kisah hidupnya dibacakan.
Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa kewajiban memuliakan Nabi tidak berubah, baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafat. Setiap muslim tetap dituntut untuk bersikap sopan, khusuk, dan penuh penghormatan saat mendengar nama Nabi atau sunnahnya dibacakan.
Beliau mengutip penjelasan Syekh Qadhi Iyadh dalam kitab asy-Syifa fi Huquqil Musthafa sebagai berikut:
اِعْلَمْ أَنَّ حُرْمَةَ النَّبِي بَعْدَ مَوْتِهِ وَتَوْقِيْرِهِ وَتَعْظِيمِهِ لَأَزِمٌ كَمَا كَانَ حَالَ حَيَاتِهِ
Artinya: “Ketahuilah bahwa kehormatan Nabi setelah wafatnya, memuliakan dan mengagungkannya, tetap wajib sebagaimana ketika beliau masih hidup.”
Dari penjelasan ini, jelas bahwa sikap khidmat saat Maulid bukanlah tradisi kosong, melainkan bentuk penghormatan yang memiliki dasar kuat dalam pandangan para ulama.
Sikap Khusuk Saat Nama Nabi Disebut
Syekh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani juga menekankan pentingnya adab ketika nama Nabi Muhammad SAW disebut. Menurut beliau, setiap mukmin wajib menunjukkan sikap khusuk, tenang, dan penuh wibawa, seolah-olah sedang berada di hadapan Rasulullah.
وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ مَتَى ذَكَرَهُ أَوْ ذُكِرَ عِنْدَهُ أَنْ يَخْضَعَ وَيَخْشَعَ وَيَتَوَقَّرَ
Artinya: “Wajib bagi setiap mukmin, ketika menyebut nama Nabi atau disebutkan di hadapannya, untuk menundukkan diri, khusuk, dan memuliakannya.”
Sikap ini dapat diwujudkan dengan duduk sopan, menghentikan aktivitas yang tidak perlu, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta menghadirkan rasa hormat dalam hati.
Memuliakan Nabi sebagai Tanda Cinta Sejati
Lebih lanjut, Syekh al-Qasthalani menjelaskan bahwa memuliakan Nabi Muhammad SAW saat namanya disebut merupakan tanda cinta yang tulus kepada Rasulullah. Cinta sejati tidak hanya diucapkan, tetapi tercermin dalam sikap dan perilaku.
مِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّتِهِ تَعْظِيمُهُ عِنْدَ ذِكْرِهِ
Artinya: “Termasuk tanda cinta kepada Nabi adalah memuliakannya ketika menyebut namanya.”
Para sahabat Nabi memberikan teladan nyata dalam hal ini. Setelah wafatnya Rasulullah, mereka tetap menunjukkan rasa hormat yang mendalam. Ketika nama Nabi disebut, tubuh mereka merinding, hati mereka tersentuh, bahkan tak jarang air mata mengalir karena rindu dan cinta yang mendalam.
Maulid Nabi sebagai Sarana Pendidikan Akhlak
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya merupakan media pendidikan spiritual dan akhlak bagi umat Islam. Melalui kisah perjuangan dan keteladanan Nabi, umat diajak untuk meneladani sifat-sifat mulia beliau, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan kerendahan hati.
Oleh sebab itu, menghadiri peringatan Maulid dengan penuh adab akan membantu menghadirkan nilai-nilai tersebut ke dalam hati. Kekhusukan bukan hanya soal sikap lahiriah, tetapi juga tentang bagaimana hati benar-benar tersambung dengan Rasulullah dan ajarannya.
Khidmat dalam Menghadiri Majelis Maulid
Khidmat dalam peringatan Maulid Nabi merupakan sikap batin yang lahir dari kesadaran penuh bahwa majelis Maulid adalah majelis yang mulia dan penuh keberkahan.
Dalam suasana tersebut, umat Islam diajak untuk menghadirkan hati yang tunduk, tenang, dan terhubung secara spiritual dengan Rasulullah SAW. Kesadaran ini menjadi fondasi utama agar peringatan Maulid tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk menjaga lisan, sikap, dan niat selama mengikuti peringatan Maulid Nabi.
Menahan diri dari perkataan sia-sia, menjaga perilaku agar tetap sopan, serta meluruskan niat semata-mata untuk mencari ridha Allah dan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah merupakan bentuk adab yang sangat ditekankan.
Adab-adab lahiriah seperti berpakaian sopan, tidak bercanda secara berlebihan, memperbanyak shalawat, serta mendengarkan ceramah dan kisah keteladanan Nabi dengan penuh perhatian juga termasuk bagian penting dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sikap-sikap inilah yang mencerminkan sejauh mana rasa cinta, hormat, dan pengagungan seorang muslim kepada Rasulullah, sekaligus menjadi wujud nyata dari akhlak yang beliau ajarkan.
Penutup
Dari berbagai penjelasan ulama, dapat disimpulkan bahwa adab dalam memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan bagian tak terpisahkan dari peringatan itu sendiri. Maulid bukan sekadar perayaan, tetapi momentum spiritual untuk menumbuhkan cinta, penghormatan, dan keteladanan kepada Rasulullah.
Dengan menjaga sikap khusuk, memuliakan nama Nabi, serta menghadiri peringatan Maulid dengan penuh adab, umat Islam diharapkan mampu menghadirkan kembali nilai-nilai akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi jalan untuk memperkuat iman, memperdalam cinta kepada Rasulullah, dan meneladani akhlak mulia beliau dalam setiap aspek kehidupan.
Sebagai agen biro perjalanan umroh Jogja, Rawda Travel menawarkan berbagai pilihan paket untuk Anda, seperti umroh plus Turki Jogja dan umroh plus Dubai Jogja. Rawda Umroh telah memiliki izin resmi dan melayani berbagai jamaah dari seluruh Indonesia. Testimoni positif yang diterima oleh Rawda adalah bukti dari kepercayaan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga: 10+ Rekomendasi Oleh Oleh Arab Saudi, Layak Dibawa Usai Haji dan Umroh









