Momen beribadah di Tanah Suci selalu memiliki nilai emosional dan spiritual yang berbeda. Terlebih lagi ketika ibadah umrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan, suasana Masjidil Haram terasa semakin khusyuk dan penuh makna.
Banyak jamaah memanfaatkan kesempatan tersebut tidak hanya untuk memperbanyak ibadah wajib dan sunnah, tetapi juga untuk memanjatkan doa di lokasi-lokasi yang dikenal sebagai tempat mustajab.
Keyakinan akan keistimewaan tempat-tempat tersebut telah hidup sejak masa Rasulullah SAW dan menjadi motivasi tersendiri bagi para peziarah.
Masjidil Haram dikenal sebagai masjid paling mulia di muka bumi. Di setiap sudutnya tersimpan sejarah panjang, simbol, dan nilai spiritual yang tak ternilai bagi umat Islam.
Bahkan terdapat beberapa lokasi yang secara khusus diyakini sebagai tempat terkabulnya doa atau tempat mustajab. Tidak mengherankan jika jamaah haji maupun umrah rela berdesakan untuk bisa mendekat atau sekadar meluangkan waktu sejenak agar mendapat kesempatan berdoa di sana.
Setidaknya terdapat tujuh tempat mustajab sekitar Masjidil Haram yang terkenal sebagai tempat mustajab untuk berdoa.
Baca Juga: 10 Destinasi Wisata Dekat Masjidil Haram, Cocok Dikunjungi Setelah Umroh
1. Multazam
Multazam merupakan salah satu lokasi yang paling diburu oleh jamaah. Tempat ini berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Para jamaah sering kali berusaha mendekatkan diri ke Multazam untuk meletakkan tangan dan wajah sambil memanjatkan doa sebanyak mungkin.
Keyakinan tentang Multazam sebagai lokasi mustajab berdoa juga ditemukan dalam riwayat ulama. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abdullah Ibnu Abbas menyampaikan sabda Rasulullah SAW:
“Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada doa satupun seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.”
Hadits tersebut menjadi dasar kuat bagi umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk memanfaatkan waktu di area ini. Tidak mengherankan bila Multazam selalu ramai, baik pada musim haji maupun di luar musim haji. Karena padatnya kondisi di sekitar Ka’bah, jamaah perlu menjaga etika dan tidak memaksakan diri ketika desakan terlalu kuat.
Filosofi yang dapat dipetik dari amalan di Multazam adalah bagaimana seorang hamba menunjukkan ketundukan dan permohonannya di hadapan Allah SWT, memadukan antara kerja fisik yang melelahkan dan kerendahan hati yang mendalam.
2. Hijir Ismail
Hijir Ismail juga menjadi lokasi favorit kedua setelah Multazam. Area ini berbentuk setengah lingkaran dan terletak di sisi utara Ka’bah. Banyak jamaah yang memanfaatkan Hijir Ismail untuk shalat sunnah dua rakaat maupun berdoa.
Hijir Ismail memiliki status istimewa karena pada masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, lokasi ini merupakan bagian dari Ka’bah sebelum bangunan Ka’bah direkonstruksi oleh masyarakat Quraisy. Karena dulunya bagian dari Ka’bah, maka shalat di Hijir Ismail dianggap sama dengan shalat di dalam Ka’bah.
Riwayat lain yang menguatkan hal tersebut datang dari Sayyidah Aisyah RA. Ketika beliau mengungkapkan keinginannya untuk masuk ke dalam Ka’bah dan shalat, Rasulullah SAW justru membawanya ke Hijir Ismail lalu bersabda:
“Shalatlah kamu di sini jika kamu ingin shalat di dalam Ka’bah, karena Hijir Ismail termasuk bagian darinya.”
Tidak heran bila Hijir Ismail menjadi lokasi yang sangat dicari jamaah. Selain karena nilai sejarahnya, tempat ini memberi kesempatan beribadah pada area yang sangat istimewa.
3. Di Bawah Talang Emas
Talang emas atau “Mizab ar-Rahmah” merupakan bagian Ka’bah yang berada di sisi Hijir Ismail. Talang ini dibuat dari emas dan berfungsi mengalirkan air hujan dari atap Ka’bah ke area Hijir Ismail.
Dikisahkan bahwa Siti Hajar dan Nabi Ismail pernah tinggal di area bawah talang emas ini, sehingga tempat tersebut memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Doa yang dipanjatkan di bawah talang emas diyakini lebih cepat dikabulkan.
Pada saat hujan turun, jamaah biasanya berebut untuk berada di bawah talang emas agar mendapatkan tetesan air yang mengalir dari Ka’bah. Banyak yang meyakini bahwa tetesan air tersebut membawa keberkahan sekaligus menjadi momen istimewa untuk berdoa.
4. Belakang Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim adalah batu bekas pijakan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah. Batu tersebut kemudian disimpan di dalam bangunan kaca dan menjadi salah satu simbol penting di kompleks Masjidil Haram.
Di belakang Maqam Ibrahim terdapat area yang sering digunakan jamaah untuk berdoa setelah melaksanakan tawaf tujuh putaran.
Banyak ulama menyebutkan bahwa doa-doa yang dipanjatkan di belakang Maqam Ibrahim memiliki keistimewaan. Dalam sebuah tulisan, Abla Muhammad al-Kahlawi menyebutkan bahwa salah satu fadhilah Maqam Ibrahim adalah terkabulnya doa-doa orang yang memohon di sana.
Selain itu, lokasi ini terkait erat dengan rangkaian ibadah umrah maupun haji. Karena menjadi bagian dari syariat, jamaah sekaligus mendapatkan momentum spiritual ketika berdoa setelah berkeliling Ka’bah dan melewati pengalaman tawaf yang melelahkan.
5. Sewaktu Melakukan Sai
Sai merupakan rangkaian ibadah yang dilakukan dari bukit Shafa menuju bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Rangkaian ibadah ini mengenang perjuangan Siti Hajar ketika berlari kecil mencari air untuk Nabi Ismail yang sedang kehausan.
Dalam tradisi dan literatur ulama, Sai bukan hanya ritual fisik, melainkan simbol ikhtiar tak kenal lelah sebagai hamba Allah. Keyakinan bahwa doa saat Sai mustajab muncul karena proses Sai sendiri merupakan cerminan pengorbanan dan kesungguhan, dua hal yang sangat dekat dengan maqam munajat seorang hamba.
Walaupun lokasi Sai secara teknis berada di luar area utama Masjidil Haram, para jamaah tetap menyempatkan diri untuk berdoa di tengah perjalanan Sai, sambil memadukan zikir, doa, dan pengharapan.
6. Bukit Shafa
Bukit Shafa adalah titik awal dimulainya Sai. Di bukit inilah jamaah biasanya berhenti sejenak sambil menengadahkan tangan dan membaca doa. Bukit Shafa memiliki nilai sejarah penting karena merupakan bagian dari perjalanan Siti Hajar, sekaligus bagian dari simbol kesungguhan seorang ibu dalam usaha mencari pertolongan Allah SWT.
Doa yang dipanjatkan di bukit Shafa diyakini mustajab karena berada dalam rangkaian ibadah Sai. Secara spiritual, bukit Shafa mengingatkan bahwa langkah pertama dalam usaha selalu dimulai dengan doa dan tawakal kepada Allah.
7. Bukit Marwah
Bukit Marwah adalah lokasi berakhirnya ibadah Sai. Setelah sampai di Marwah, jamaah biasanya melakukan tahallul atau mencukur rambut sebagai penyempurna ibadah umrah.
Sama seperti bukit Shafa, Marwah juga diyakini sebagai tempat mustajab untuk berdoa, meskipun tidak lagi berada dalam area Masjidil Haram. Selain menjadi penanda berakhirnya perjuangan Sai, Marwah menjadi simbol bahwa setiap usaha yang dilandasi ikhtiar tulus selalu ditutup dengan rasa syukur dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Etika dan Sikap Berdoa di Tempat Mustajab
Karena tempat-tempat tersebut biasanya padat oleh jamaah dari berbagai negara, etika menjadi hal penting dalam praktik keberagamaan.
Jangan sampai seseorang menyakiti, mendorong, mengganggu, bahkan membahayakan jamaah lain hanya untuk memperoleh akses ke tempat mustajab. Doa mestinya dipanjatkan dengan hati bersih dan cara yang benar, bukan dengan cara yang merugikan pihak lain.
Selain itu, keyakinan akan mustajabnya doa di tempat-tempat tersebut bukan berarti doa di tempat lain tidak dikabulkan. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa di manapun seorang hamba memintanya. Tempat mustajab hanya menjadi sarana berkah tambahan dan momentum pahala yang lebih besar.
Penutup
Tujuh lokasi mustajab di sekitar Masjidil Haram merupakan bagian dari kekayaan spiritual umat Islam. Setiap tempat mengandung sejarah, simbol, dan makna yang mendalam. Ketika jamaah berkesempatan mengunjungi Tanah Suci, mengoptimalkan waktu berdoa di lokasi-lokasi ini dapat menjadi pengalaman spiritual yang tidak terlupakan.
Namun tetap perlu disadari bahwa esensi doa bukan hanya pada tempat, melainkan pada kesungguhan hati, ketulusan permohonan, serta adab dalam berinteraksi sesama jamaah. Semoga Allah memperkenankan setiap doa yang terucap dan menjadikan perjalanan ibadah sebagai sumber keberkahan hidup.
Sebagai agen biro perjalanan umroh Jogja, Rawda Travel menawarkan berbagai pilihan paket untuk Anda, seperti umroh plus Turki Jogja dan umroh plus Dubai Jogja. Rawda Umroh telah memiliki izin resmi dan melayani berbagai jamaah dari seluruh Indonesia. Testimoni positif yang diterima oleh Rawda adalah bukti dari kepercayaan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.









