Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu, baik secara fisik, finansial, maupun mental.
Haji tidak hanya menjadi ibadah tahunan terbesar di dunia Islam, tetapi juga simbol kesatuan umat Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk berkumpul di Tanah Suci Makkah. Di balik kekhusyukannya, ternyata ada macam-macam haji yang memiliki perbedaan dalam niat dan tata cara pelaksanaannya.
Banyak umat Islam belum mengetahui secara mendalam macam-macam haji tersebut. Padahal, memahami perbedaannya sangat penting agar jamaah dapat memilih jenis haji yang sesuai dengan kondisi fisik dan waktu yang dimiliki.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai macam-macam haji beserta dalil dan terjemahannya, termasuk penjelasan masing-masing jenis haji dan keutamaannya.
Selain itu, pembahasan mengenai macam-macam haji juga akan disertai dasar hadis Rasulullah saw. yang menjadi landasan utama pembedaan antara tiga jenis ibadah haji.
Dengan pemahaman yang benar, calon jamaah dapat menunaikan ibadah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.
Baca Juga : Simak Tata Cara Ihram Sesuai Ajaran Sunnah dan Larangannya
Dalil Macam-Macam Haji
Perbedaan dalam pelaksanaan haji berlandaskan pada hadis yang menceritakan Haji Wada’ Rasulullah saw., di mana beliau dan para sahabat melakukan ibadah dengan cara yang berbeda-beda. Hadis dari Aisyah r.a. berikut menjadi dasar utama pembagian tiga jenis haji:
خَرَجْنَا مَعَ اَلنَّبِيِّ (عَامَ حَجَّةِ اَلْوَدَاعِ)، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ، وَأَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ (صلى الله عليه وسلم) بِالْحَجِّ، فَأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ فَحَلَّ، وَأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ، أَوْ جَمَعَ اَلْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَلَمْ يَحِلُّوا حَتَّى كَانَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ
Transliterasi:
Kharajnā ma‘a an-nabiyyi (‘ām ḥajjati al-wadā‘), faminnā man ahalla bi‘umrah, wa minnā man ahalla biḥajjin wa ‘umrah, wa minnā man ahalla biḥajjin, wa ahalla Rasūlullāh (ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam) bil-ḥajj, fa ammā man ahalla bi‘umrah fa ḥalla, wa ammā man ahalla biḥajjin aw jama‘a al-ḥajja wal-‘umrah falam yaḥillū ḥattā kāna yauma an-naḥr.Artinya:
“Kami keluar bersama Rasulullah pada tahun Haji Wada’. Di antara kami ada yang berihram untuk umrah, ada yang berihram untuk haji dan umrah, dan ada yang berihram untuk haji saja. Rasulullah saw. berihram untuk haji. Bagi yang berihram untuk umrah, mereka boleh tahalul setelah itu. Siapa yang berihram untuk haji atau menggabungkan antara haji dan umrah, maka tidaklah tahalul kecuali pada hari Nahr (Iduladha, 10 Dzulhijjah).”
(HR. Bukhari no. 1211 dan Muslim no. 118)
Hadis ini menjadi dasar pembagian macam-macam haji menjadi tiga jenis, yaitu:
- Haji Ifrad
- Haji Qiran
- Haji Tamattu’
1. Haji Ifrad
Pengertian Haji Ifrad
Haji Ifrad berasal dari kata ifrad yang berarti “menyendiri.” Dalam ibadah ini, jamaah hanya berniat melaksanakan ibadah haji tanpa disertai umrah. Jenis haji ini biasanya dipilih oleh jamaah yang tinggal di sekitar Makkah atau memiliki waktu yang panjang di Tanah Suci.
Tata Cara Haji Ifrad
- Ihram di Miqat
Jamaah memasuki ihram dengan niat hanya untuk haji:
“Labbaika ḥajjan.”
Setelah itu, jamaah wajib menjauhi larangan ihram seperti memakai wangi-wangian atau memotong rambut. - Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah)
Jamaah berdiam diri, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah di Padang Arafah, sebagai puncak ibadah haji. - Mabit di Muzdalifah dan Melontar Jumrah Aqabah
Setelah maghrib, jamaah menuju Muzdalifah untuk bermalam dan mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan melontar Jumrah keesokan harinya. - Tawaf Ifadah dan Sa’i
Setelah melontar Jumrah, jamaah melaksanakan tawaf ifadah di Masjidil Haram sebagai rukun utama haji.
Keistimewaan Haji Ifrad
Jamaah tidak wajib membayar dam (denda) karena tidak menggabungkan umrah dengan haji. Jenis ini juga dianggap sebagai bentuk ibadah yang lebih sederhana dan fokus pada makna spiritual haji.
2. Haji Qiran
Pengertian Haji Qiran
Kata qiran berarti “menggabungkan.” Haji Qiran dilakukan dengan menggabungkan ibadah haji dan umrah dalam satu niat dan satu pelaksanaan. Sejak ihram, jamaah berniat untuk keduanya sekaligus dan tidak bertahalul di antara keduanya.
Tata Cara Haji Qiran
- Ihram dengan Dua Niat
Jamaah berihram di miqat dengan niat:
“Labbaika ḥajjan wa ‘umratan.”
Artinya, jamaah berniat untuk menjalankan haji dan umrah sekaligus. - Tawaf dan Sa’i Umrah
Setelah itu, jamaah melakukan tawaf dan sa’i, namun tidak bertahalul hingga selesai seluruh rukun haji. - Wukuf, Mabit, dan Melontar Jumrah
Sama seperti haji ifrad, jamaah wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melempar Jumrah pada hari Iduladha. - Tawaf Ifadah dan Tahalul
Setelah melaksanakan semua rukun, jamaah baru bertahalul pada hari Nahr.
Kewajiban Membayar Dam
Karena jamaah melaksanakan dua ibadah sekaligus, maka diwajibkan menyembelih dam (hewan kurban). Jika tidak mampu, diperbolehkan berpuasa 10 hari (3 hari di Tanah Suci, 7 hari setelah pulang).
Keutamaan Haji Qiran
Haji Qiran memiliki keutamaan tersendiri karena menggabungkan dua ibadah besar dalam satu waktu. Namun, pelaksanaannya memerlukan stamina dan kesiapan mental yang lebih tinggi.
3. Haji Tamattu’
Pengertian Haji Tamattu’
Kata tamattu’ berarti “bersenang-senang.” Dalam konteks ibadah, haji tamattu’ dilakukan dengan melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian haji dalam musim yang sama. Jenis ini paling umum dilakukan oleh jamaah dari Indonesia.
Tata Cara Haji Tamattu’
- Ihram untuk Umrah
Jamaah berihram dengan niat untuk umrah:
“Labbaika ‘umratan.”
Setelah menyelesaikan tawaf dan sa’i, jamaah melakukan tahalul. - Keluar dari Ihram dan Menunggu Waktu Haji
Jamaah bebas dari larangan ihram dan menunggu hingga tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah). - Ihram Kedua untuk Haji
Pada 8 Dzulhijjah, jamaah kembali berihram dengan niat haji:
“Labbaika ḥajjan.” - Melaksanakan Rukun Haji
Rangkaian ibadah dilakukan mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, hingga tawaf ifadah.
Kewajiban Membayar Dam
Sama seperti haji qiran, jamaah tamattu’ juga wajib membayar dam karena melaksanakan dua ibadah dalam musim yang sama.
Keutamaan Haji Tamattu’
Jenis haji ini paling mudah dan fleksibel, karena memberikan waktu istirahat setelah umrah. Itulah sebabnya haji tamattu’ menjadi pilihan mayoritas jamaah Indonesia.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa macam-macam haji terdiri dari tiga jenis utama: haji ifrad, qiran, dan tamattu’, masing-masing dengan tata cara dan keutamaan tersendiri. Haji Ifrad menekankan kesederhanaan, Haji Qiran menyatukan dua ibadah besar, sementara Haji Tamattu’ menawarkan fleksibilitas bagi jamaah.
Memahami macam-macam haji beserta dalil dan terjemahannya sangat penting bagi setiap calon jamaah agar pelaksanaan ibadah di Tanah Suci menjadi lebih bermakna dan sesuai sunnah Rasulullah saw.
Sebagai agen biro perjalanan umroh Jogja, Rawda Travel menawarkan berbagai pilihan paket untuk Anda, seperti umroh plus Turki Jogja dan umroh plus Dubai Jogja. Rawda Umroh telah memiliki izin resmi dan melayani berbagai jamaah dari seluruh Indonesia. Testimoni positif yang diterima oleh Rawda adalah bukti dari kepercayaan dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
Baca Juga: 20+ Doa Haji dan Umroh: Arab, Latin, dan Terjemahannya









